Senin, 07 Maret 2016

TEORI KEBENARAN


KEBENARAN

A.    PENGERTIAN KEBENARAN
Kebenaran adalah kenyataan yang ada dan menampakkan diri sampai masuk akal. Benar menyatakan kualitas, keadaan atau sifat benarnya sesuatu. Sesuatu itu bisa berupa pengetahuan (pemikiran) atau pengalaman (perbutan). Jadi benar adalah suatu pengertian abstrak : suatu pengertian yang pada dasarnya tak dapat ditangkap oleh indra insani, meskipun seandainya indra ini diberi kekuatan tak terbatas.

B.     MACAM-MACAM KEBENARAN
1.      Kebenaran Subjektif
Kebenaran subjektif adalah kebenaran yang melibatkan persepsi pengamatnya, sering pula disebut kebenaran relatif, seorang aktivis posmo yang bernama Michael Fackerell pernah mengucapkan suatu slogan yang berbungi “All is relative” (Semua adalah relatif). Benar bagi anda belum tentu benar bagi yang lainnya, tidak ada kebenaran yang benar-benar mutlak.

2.      Kebenaran Objektif
Kebenaran objektif adalah kebenaran apa adanya tanpa melibatkan persepsi pengamatnya. Kebenaran ini melibatkan persesuaian antara yang diketahui dengan fakta sebenarnya. Suatu objek dapat didekati secara subjektif, bahkan di ranah objektif sekalipun. Semua objek bisa dipersepsi secara berbeda. Objeknya sama, tetapi persepsinya yang berbeda. Dulu matahari dianggap mengelilingi bumi, tetapi kemudian ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa bumi-lah yang mengelilingi matahari. Objeknya sama, faktanya sama, tidak berubah, dan itu-itu saja, hanya persepsinya yang berubah.

3.      Kebenaran Mutlak
Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang hakiki dan sejati, sesuatu yang dapat melihat dan menyatakan keseluruhan realitas secara objektif, apa adanya. Kebenaran mutlak ini harus hanya ada satu saja dan merupakan suatu acuan atau standar bagi apa yang disebut dengan kebenaran relatif. Kebenaran mutlak itu mempunyai sifat universal ( berlaku bagi semua orang, tidak ada perkecualian ), kekal ( lintas waktu dan ruang, tidak berubah-ubah, tidak berganti ), integral (tidak ada konflik di dalamnya ) dan tanpasalah ( bermoral tinggi, suci ).

C.     CONTOH DALAM KEHIDUPAN NYATA
1.    Contoh Kebenaran Subjektif
Untuk menjelaskan kebenaran subyektif mari kita simak suatu drama kehidupan berikut:
Rombongan masa membawa seorang wanita pelacur yang akan menjalani hukuman rajam kehadapan Yesus. Yesus katakan " siapa diantara kalian yang tidak pernah berbuat salah, dialah yang paling dulu melemparkan batu kepada perempuan ini " Mereka semuanya saling pandang, lalu pergi satu-persatu, sehingga tinggal pelacur dengan Yesus. Yesus katakan pergilah kamu, jangan berbuat demikian lagi.
Kebenaran subyektif adalah wanita itu pendosa, tuna susila, pelacur, dan harus dihukum. Kebenaran itu dibentuk oleh opini masyarakat yang dibangun oleh pemimpinnya berdasarkan pandangan moralitas, budaya, dan ajaran agama mereka.

2.    Contoh Kebenaran Objektif
Kebenaran objektif jika tidak dapat dibuktikan, maka tentu kebenaran itu tidak dapat dikatakan objektif. Eric Blanchone menuliskan: Suatu kebenaran dapat menjadi kebenaran sesungguhnya, maksudnya sesuatu yang sungguh benar. Sebagai contoh jika saja menceritakan kepada Jane bahwa Bob mengatakan sesuatu tentang dia [Jane] dan ia [Bob] sungguh melakukannya, maka itu adalah suatu kebenaran karena perkataan itu dapat dibuktikan. Hal itu akan menjadi kebenaran objektif jikalau itu dapat dibuktikan oleh satu atau dua orang
Dalam Akidah dan Tauhid Islam, mengakui kebenaran objektif di dalam arti: kebenaran tidak pernah diciptakan oleh manusia. Pemahaman tentang Allah dan manusia dalam hubungannya dengan sesama, serta alam ciptaan-Nya dengan segala kebenaran yang terkandung di dalamnya adalah milik Allah. Kebenaran itu berasal dari Allah dan tidak pernah dapat diciptakan oleh manusia. Kebenaran itu diwahyukan kepada manusia oleh kehendak Allah. Manusia sebagai ciptaan Allah yang diberikan akal budi dan hikmat oleh Allah memiliki tugas untuk menemukan, meneguhkan dan mengaplikasikan kebenaran itu sesuai dengan realitasnya.
Implikasi dari klaim tentang kebenaran objektif di dalam kehidupan bermasyarakat adalah bahwa Apa yang dinyatakan Allah kepada manusia melalui firman-Nya merupakan kebenaran objektif dan harus dilakukan. Sebagai contoh bahwa di dalam kehidupan bermasyarakat harus saling menghargai dan menghormati dengan dasar kasih, menghindari segala macam kemaksiatan dan kejahatan serta hidup di dalam kebenaran sebagaimana diajarkan Alkitab: bersikap jujur, adil, tidak kompromi dengan dosa, menolong dan membantu mereka yang kekurangan, serta melakukan berbagai kebaikan.

3.    Contoh Kebenaran Mutlak
Sebagai contoh kebenaran mutlak untuk penganut atheist, mereka berpandangan bahwa tuhan itu tidak ada, tuhan itu tidak nyata, dll. dalam pemikiran mereka hal tendensius terlalu naif untuk di bayangkan. Sedangkan untuk pandangan orang beragama historis, selalu bertanya kepada kaum atheis, anda percaya kepada siapa? kalau tidak kepada tuhan? apakah mungkin manusia biasa, yang hanya pada zaman itu dianggap sebagai orang yang dikatakan pintar membuat suatu paham yang notabene adalah hasil pemikirannya yang sempit.

D.    TEORI-TEORI KEBENARAN
1.      Teori Corespondence menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut.
2.      Teori Consistency Teori ini merupakan suatu usah apengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesanyang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain.
3.      Teori Pragmatisme Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal apra pendidik sebagai metode project atau medoe problem olving dai dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
4.      Kebenaran Religius Kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasion dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar