KEBENARAN
A. PENGERTIAN
KEBENARAN
Kebenaran
adalah kenyataan yang ada dan menampakkan diri sampai masuk akal. Benar menyatakan kualitas, keadaan atau
sifat benarnya sesuatu. Sesuatu itu bisa berupa pengetahuan (pemikiran) atau pengalaman (perbutan).
Jadi benar adalah suatu pengertian abstrak : suatu pengertian yang pada
dasarnya tak dapat ditangkap oleh indra insani, meskipun seandainya indra ini
diberi kekuatan tak terbatas.
B. MACAM-MACAM
KEBENARAN
1. Kebenaran
Subjektif
Kebenaran
subjektif adalah kebenaran yang melibatkan persepsi pengamatnya, sering pula
disebut kebenaran relatif, seorang aktivis posmo yang bernama Michael Fackerell
pernah mengucapkan suatu slogan yang berbungi “All is relative” (Semua adalah
relatif). Benar bagi anda belum tentu benar bagi yang lainnya, tidak ada
kebenaran yang benar-benar mutlak.
2. Kebenaran
Objektif
Kebenaran
objektif adalah kebenaran apa adanya tanpa melibatkan persepsi pengamatnya.
Kebenaran ini melibatkan persesuaian antara yang diketahui dengan fakta
sebenarnya. Suatu objek dapat didekati secara subjektif, bahkan di ranah
objektif sekalipun. Semua objek bisa dipersepsi secara berbeda. Objeknya sama,
tetapi persepsinya yang berbeda. Dulu matahari dianggap mengelilingi bumi,
tetapi kemudian ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa bumi-lah yang mengelilingi
matahari. Objeknya sama, faktanya sama, tidak berubah, dan itu-itu saja, hanya
persepsinya yang berubah.
3. Kebenaran
Mutlak
Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang
hakiki dan sejati, sesuatu yang dapat melihat dan menyatakan keseluruhan
realitas secara objektif, apa adanya. Kebenaran mutlak ini harus hanya ada satu
saja dan merupakan suatu acuan atau standar bagi apa yang disebut dengan
kebenaran relatif. Kebenaran mutlak itu mempunyai sifat universal ( berlaku
bagi semua orang, tidak ada perkecualian ), kekal ( lintas waktu dan ruang,
tidak berubah-ubah, tidak berganti ), integral (tidak ada konflik di dalamnya )
dan tanpasalah ( bermoral tinggi, suci ).
C. CONTOH
DALAM KEHIDUPAN NYATA
1.
Contoh Kebenaran Subjektif
Untuk
menjelaskan kebenaran subyektif mari kita simak suatu drama kehidupan berikut:
Rombongan
masa membawa seorang wanita pelacur yang akan menjalani hukuman rajam kehadapan
Yesus. Yesus katakan " siapa diantara kalian yang tidak pernah berbuat
salah, dialah yang paling dulu melemparkan batu kepada perempuan ini "
Mereka semuanya saling pandang, lalu pergi satu-persatu, sehingga tinggal
pelacur dengan Yesus. Yesus katakan pergilah kamu, jangan berbuat demikian
lagi.
Kebenaran
subyektif adalah wanita itu pendosa, tuna susila, pelacur, dan harus dihukum.
Kebenaran itu dibentuk oleh opini masyarakat yang dibangun oleh pemimpinnya
berdasarkan pandangan moralitas, budaya, dan ajaran agama mereka.
2. Contoh Kebenaran Objektif
Kebenaran objektif jika tidak dapat
dibuktikan, maka tentu kebenaran itu tidak dapat dikatakan objektif. Eric Blanchone menuliskan: Suatu kebenaran dapat
menjadi kebenaran sesungguhnya, maksudnya sesuatu yang sungguh benar. Sebagai
contoh jika saja menceritakan kepada Jane bahwa Bob mengatakan sesuatu tentang
dia [Jane] dan ia [Bob] sungguh melakukannya, maka itu adalah suatu kebenaran
karena perkataan itu dapat dibuktikan. Hal itu akan menjadi kebenaran objektif
jikalau itu dapat dibuktikan oleh satu atau dua orang
Dalam Akidah dan Tauhid Islam, mengakui
kebenaran objektif di dalam arti: kebenaran tidak pernah diciptakan oleh
manusia. Pemahaman tentang Allah dan manusia dalam hubungannya dengan sesama,
serta alam ciptaan-Nya dengan segala kebenaran yang terkandung di dalamnya
adalah milik Allah. Kebenaran itu berasal dari Allah dan tidak pernah dapat
diciptakan oleh manusia. Kebenaran itu diwahyukan kepada manusia oleh kehendak
Allah. Manusia sebagai ciptaan Allah yang diberikan akal budi dan hikmat oleh
Allah memiliki tugas untuk menemukan, meneguhkan dan mengaplikasikan kebenaran
itu sesuai dengan realitasnya.
Implikasi dari klaim tentang kebenaran
objektif di dalam kehidupan bermasyarakat adalah bahwa Apa yang dinyatakan
Allah kepada manusia melalui firman-Nya merupakan kebenaran objektif dan harus
dilakukan. Sebagai contoh bahwa di dalam kehidupan bermasyarakat harus saling
menghargai dan menghormati dengan dasar kasih, menghindari segala macam
kemaksiatan dan kejahatan serta hidup di dalam kebenaran sebagaimana diajarkan
Alkitab: bersikap jujur, adil, tidak kompromi dengan dosa, menolong dan
membantu mereka yang kekurangan, serta melakukan berbagai kebaikan.
3. Contoh Kebenaran Mutlak
Sebagai contoh kebenaran mutlak untuk
penganut atheist, mereka berpandangan bahwa tuhan itu tidak ada, tuhan itu
tidak nyata, dll. dalam pemikiran mereka hal tendensius terlalu naif untuk di
bayangkan. Sedangkan untuk pandangan orang beragama historis, selalu bertanya
kepada kaum atheis, anda percaya kepada siapa? kalau tidak kepada tuhan? apakah
mungkin manusia biasa, yang hanya pada zaman itu dianggap sebagai orang yang
dikatakan pintar membuat suatu paham yang notabene adalah hasil pemikirannya
yang sempit.
D. TEORI-TEORI
KEBENARAN
1. Teori
Corespondence menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan benar itu
terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan
atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat
tersebut.
2. Teori
Consistency Teori ini merupakan suatu usah apengujian (test) atas arti
kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesanyang
berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test
eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain.
3. Teori
Pragmatisme Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal apra
pendidik sebagai metode project atau medoe problem olving dai dalam pengajaran.
Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang
ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengmbalikan pribadi manusia di
dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan
utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk
ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan
lingkungan.
4. Kebenaran
Religius Kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasion dan kemauan
individu. Kebenaran bersifat objective, universal,berlaku bagi seluruh umat
manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari
Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar